Jawaban Andi Priandoyo dari Pertanyaan Voting: Setujukah Anda harga Rokok dinaikan menjadi Rp 50 ribu? di SETO.CO.ID

Lihat jawaban selengkapnya di SETO.CO.ID

Pemerintah harus mempertimbangkan dampak dari sisi ekonomi dari kebijakan kenaikan harga rokok jadi 50 ribu. 

Berdasarkan data, Industri rokok sudah berkontrubusi dalam pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan industri 5-7 persen. 

Tahun 2000, pemerintah meraup setoran cukai dari perusahaan-perusahaan industri rokok sebesar Rp 11,29 triliun. Selang 12 tahun selanjutnya, penerimaan negara dari cukai sudah mencapai 7,5 kali lipat atau Rp 84 triliun.

Industri tembakau dan rokok juga berkontribusi dalam output nasional 1,37 persen atau setara 12,18 miliar dolar AS. 

Di sektor pajak industri pertembakauan memberi kontribusi industri hasil tembakau, dengan nilai industri Rp248 triliun, kontribusi pajaknya sangat besar mencapai Rp131 triliun, artinya kontribusi pajak mencapai 52,7 persen, bandingkan dengan BUMN yang hanya 8,5 persen, real estat dan konstruksi (15,7 persen) atau kesehatan dan farmasi (0,9 persen). 

Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2016, target penerimaan negara dari cukai rokok direncanakan sebesar Rp148,9 triliun atau 95,8 persen dari total target penerimaan cukai yang dipatok Rp155 triliun.

Dan industri tembakau merupakan industri padat karya yang menyerap jumlah tenaga kerja lebih dari 6,1 juta dan menciptakan beberapa mata rantai industri yang dikelola oleh rakyat.

Panen cukai ini dipetik pemerintah dari daerah-daerah yang banyak beroperasi industri rokok seperti Jawa Tengah. Tahun 2012, gabungan Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan kontribusi cukainya sebesar Rp 20 triliun. 

Tahun 2013 meningkat lagi Rp 24,67 triliun. Cukai rokok menyumbang 85 persen total penerimaan Ditjen Bea dan Cukai di Jateng/DIY, sedangkan untuk penerimaan pusat kedua provinsi menyumbang sebesar 30 persen

Tulisan ini dipost melalui Aplikasi Seto di tanya jawab seputar Politik, Ekonomi, dan Rokok.

Advertisements