Jawaban Anto Erawan dari Pertanyaan Bagaimana dampak regulasi Risk Based Capital di industri Asuransi Indonesia? di SETO.CO.ID

Lihat jawaban selengkapnya di SETO.CO.ID

Regulasi Risk Based Capital (RBC) ditujukan untuk menjaga kesehatan industri Asuransi. Situasi ekonomi dan aspek regulasi di Indonesia saatini berdampak pada meningkatnya tantangan di industri asuransi. Olehkarena itu, perusahaan harus mampu menghadapi tantangan yang cukup berat diindustri ini. Meningkatnya tantangan industri asuransi kemungkinan menjadi penyebab penutupan beberapa perusahaan asuransi di Indonesia ditunjukkan padatabel berikut:

Kategori

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

Asuransi Jiwa

51

51

46

45

46

46

45

45

Asuransi Non-Jiwa

97

97

94

90

89

87

85

83

Reasuransi

4

4

4

4

4

4

4

4

Asuransi Sosial

2

3

3

3

3

3

3

3

Lain-lain

3

2

2

2

2

2

2

2

Total

157

157

149

144

144

142

139

137

Sumber: BPS

Berdasarkan tabel diatas jumlah perusahaan asuransi di Indonesia antara 2007 sampai 2014 terus menurun jumlahnya. Jumlah perusahaan asuransi pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 8 (delapan) perusahaan atau mengalami penurunan sebesar 5.1% dibandingkan dengan tahun 2008. Pada tahun 2010 kembali berkurang sebesar 5 (lima) perusahaan asuransi. Pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2 (dua) perusahaan asuransi dari 144 pada tahun 2010. Pada tahun 2013 perusahaan asuransi kembali turun jumlahnya dari 142 perusahaan asuransi menjadi 139 perusahaan asuransi atau mengalami penurunan sebesar 5 (lima) persen dibandingkan tahun 2012. Pada tahun 2014 perusahaan asuransi kembali turun jumlahnya dari 139 perusahaan asuransi menjadi 137 perusahaan asuransi atau mengalami penurunan sebesar 2 (dua) persen dibandingkan tahun 2013. Dengan kata lain, perusahaan asuransi antara 2007-2013 mengalami penurunan sebesar 20 (dua puluh) perusahaan atau mengalami penurunan sebesar 12.74%.

Menurut Departemen Keuangan (2012), penutupan beberapa perusahaan asuransi disebabkan karena perusahaan asuransi tidak dapat memenuhi minimum Risk Based Capital (RBC). Selain penutupan perusahaan asuransi ada juga perusahaan asuransi yang mengembalikan izin usaha karena menggabungkan portofolio asuransi yang lain, dan ada juga perusahaan asuransi yang berada di bawah pengawasan khusus karena permasalahan tidak dapat memenuhi minimum Risk Based Capital (RBC). Pemerintah mengeluarkan peraturan melalui Menteri Keuangan Nomor 53/PMK/010/2012 tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi.

Menurut Departemen Keuangan (2012), asuransi dan perusahaan reasuransi setiap saat wajib memenuhi tingkat solvabilitas (perbedaan antara jumlah aset dikurangi total kewajiban yang diperbolehkan) minimal 120 persen dari Risk Based Capital. Minimum Risk Based Capital adalah jumlah dana yang dibutuhkan untuk mengantisipasi risiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi dalam pengelolaan aset dan kewajiban.

Pada tahun 2010, Departemen Keuangan mengeluarkan daftar perusahaan asuransi yang dikenakan Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU) dikarenakan tidak bisa memenuhi tingkat solvabilitas (perbedaan antara jumlah aset dikurangi total kewajiban yang diperbolehkan) minimal 120 persen dari Risk Based Capital.Berikut daftar perusahaan asuransi yang tidak bisa memenuhi tingkat solvabilitas (perbedaan antara jumlah aset dikurangi total kewajiban yang diperbolehkan) minimal 120 persen dari Risk Based Capital.

Perusahaan Asuransi yang Dikenakan Pembatasan Kegiatan Usaha:

No

Perusahaan Asuransi

1

PT Asuransi Prima Perkasa Internasional

2

PT Anugerah General Insurance

3

PT Asuransi Anugerah Bersama

4

Koperasi Asuransi Jiwa Indonesia

5

PT Asuransi Jiwa Buana Putera

6

PT Asuransi Jiwa Elite

7

PT Asuransi Jiwa Mukjizat Utama

8

PT Asuransi Jiwa NussaLife Financial

Sumber: Departemen Keuangan, 2011

Tulisan ini dipost melalui Aplikasi Seto di tanya jawab seputar dan Asuransi.

Advertisements