Jawaban Alpha Surya dari Pertanyaan Bagaimana dampak HIV/AIDS di Indonesia? di SETO.CO.ID

Lihat jawaban selengkapnya di SETO.CO.ID

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau Sindrom Kehilangan Kekebalan Tubuh adalah penyakit yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang atau menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Akibat menurunnya kekebalan tubuh, maka orang tersebut akan sangat mudah terkena penyakit infeksi (infeksi oppurtunisitik) yang sering berakibat fatal pada penderitanya (Kemenkes RI, 2014). Sejak awal epidemi , HIV menjadi salah satu tantangan masalah kesehatan yang paling serius. Setiap tahun, angka orang yang hidup dengan HIV/AIDS di dunia terus meningkat. 

Berdasarkan data yang terbaru, pada tahun 2014 terdapat sekitar 36, 9 juta orang dan yang meninggal akibat infeksi HIV sekitar  1,2 juta orang  (UNAIDS, 2015).

Di antara negara-negara Asia-Pasifik, Indonesia menjadi negara urutan ketiga setelah India dan China dengan kasus infeksi HIV tertinggi, yaitu sekitar 610.000 kasus. Selain itu, ketiga negara tersebut  menyumbang 78%  kasus infeksi baru HIV/AIDS di Asia-Pasifik bersama (UNAIDS, 2013). Dalam empat tahun terakhir, kasus baru HIV/AIDS dilaporkan cenderung meningkat di Indonesia, dengan estimasi setiap 25 menit terjadi satu kasus baru infeksi HIV/AIDS (UNICEF Indonesia, 2012)

Sampai dengan tahun 2005 kasus baru HIV positif sebesar 859 kasus kemudian meningkat menjadi 21.511 kasus pada tahun 2012 (Kemenkes RI, 2012).

HIV tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, akan tetapi HIV berdampak pula terhadap rumah tangga, komunitas, masyarakat, dan perkembangan serta pertumbuhan ekonomi negara. Banyak negara yang memiliki prevalensi HIV tinggi, turut merasakan dampak lain  dari HIV seperti penyakit infeksi, masalah kerawanan pangan dan masalah serius lainnya (UNAIDS, 2015a).

Berbagai  upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS telah dilakukan sejak awal epidemi. Namun, dari berbagai upaya tersebut yang menjadi kendala terbesar yang tampak kasat mata adalah stigma dan sikap diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA). Istilah stigma berasal dari bahasa Yunani yang berarti tanda yang disematkan pada tubuh untuk menunjukkan bahwa orang yang dimaksud telah melakukan perbuatan imoral (Pharis A et. al., 2011). Stigma terkait AIDS mengarah pada segala persangkaan, sikap negatif dan penolakan yang ditujukan kepada ODHA serta individu, kelompok atau komunitas yang berhubungan dengan ODHA tersebut.(UNAIDS, 2015b). Hasil penelitian dari International Centre for Research on Women (ICRW) tahun 2012,  menemukan bahwa konsekuensi lain dari stigma dan sikap dikriminasi  terhadap orang dengan HIV/AIDS antara lain kehilangan pendapatan, pemutusan pekerjaan, kehilangan keluarga, kegagalan dalam pernikahan, terhentinya keinginan mempunyai anak, buruknya pelayanan kesehatan, hilangnya harapan hidup, dan perasaan yang sangat sedih, serta kehilangan reputasi dan percaya diri (ICRW, 2005).

Hampir 35% negara yang memiliki data HIV/AIDS, menyatakan bahwa lebih dari 50% perempuan dan laki-laki ODHA mengalami diskriminasi di lingkungannya (UNAIDS, 2005). 

Di Indonesia, stigma dan sikap diskriminasi sering terjadi juga di berbagai wilayah.  Salah satu contoh nya adalah masyarakat  Sanur di Kota Denpasar, Bali  yang mayoritas beragama Hindu, memperlakukan jenazah ODHA pada saat upacara pemandian jenazah dan pembakaran mayat tidak dilakukan sesuai dengan tata cara yang ada (Ekawati, 2010). Hal ini juga terjadi di daerah Grobogan, Jawa Tengah, dimana bila diketahui terdapat ODHA yang meninggal, akan sulit mencari orang yang bersedia untuk melaksanakan pemulasaran jenazah. Demikian juga banyak masyarakat yang menolak bersahabat dengan ODHA. Walaupun tidak sampai terjadi pengusiran ODHA dari lingkungan, namun masih banyak masyarakat yang enggan melibatkan ODHA dalam kegiatan masyarakat ( Shaluhiyah, 2015). Selain itu, dalam hal layanan kesehatan, ODHA mendapatkan mutu perawatan medis yang kurang baik, ditolak mendapat pengobatan -seringkali sebagai akibat rasa takut tertular yang salah kaprah serta masih banyak sikap negatif lainnya yang dirasakan oleh ODHA akibat stigma tersebut.

Tulisan ini dipost melalui Aplikasi Seto di tanya jawab seputar Kesehatan, Kedokteran, dan Pengobatan dan Perawatan Kesehatan.

Advertisements