Jawaban Chandra Prawira dari Pertanyaan Bagaimana dampak HIV/AIDS di Indonesia? di SETO.CO.ID

Lihat jawaban selengkapnya di SETO.CO.ID

Yang paling dikhawatirkan adalah sikap terhadap pengguna ODHA. Ada 2 sikap terhadap pengguna ODHA, sikap positif dan negatif. 

Sikap positif memandang hak-hak dasar manusia secara hakiki. .Sedangkan sikap negatif menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada. Apabila individu memiliki sikap yang positif terhadap suatu obyek ia akan siap membantu, memperhatikan, berbuat sesuatu yang menguntungkan obyek itu. Sebaliknya bila ia memiliki sikap yang negatif terhadap suatu objek, maka ia akan mengancam, mencela,menyerang bahkan membinasakan obyek itu.

WHO dalam surveynya menyebutkan bahwa sebagian besar responden di Indonesia memperlihatkan sikap yang negatif sehubungan dengan penyakit AIDS (62,7%) dan sisanya (37,3%) memperlihatkan sikap positif tentang penyakit AIDS. 

Minimnya pengetahuan khususnya tentang cara penularan HIV/AIDS membuat orang-orang takut terhadap ODHA akan tertularnya virus HIV/AIDS. Ketakutan ini ditambah lagi dengan berbagai pemahaman/anggapan yang keliru bahkan salah mengenai HIV/AIDS, seperti : 

  • HIV/AIDS selalu behubungan dengan kematian; 
  • HIV/AIDS selalu dihubungkan dengan perilaku seksual menyimpang (homoseksual, korban NAPZA, pekerja seks); 
  • HIV/AIDS selalu dihubungkan dengan penularan hubungan seksual yang dianggap adanya perilaku tidak bermoral dan terkena infeksi merupakan hukuman atas perbuatannya, merupakan bentuk tidak adanya tanggung jawab pribadi dalam kehidupan bermasyarakat 

sumber: Egyptian Anti-Stigma Forum, 2012.

WHO dalam surveynya menyebutkan bahwa 90,4% penduduk Indonesia memiliki pengetahuan tentang HIV/AIDS yang rendah. Sejalan dengan penelitian tersebut, pada penelitian Shahulliyah (2015) juga menunjukkan bahwa 53,3% reponden memiliki pengetahuan yang rendah tentang HIV/AIDS.

Pendidikan kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS dalam banyak penelitian dibuktikan sebagai salah satu faktor yang paling memengaruhi terjadinya pengurangan stigma dan sikap  diskriminasi. Orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang faktor risiko, transmisi, pencegahan, dan pengobatan HIV/AIDS cenderung tidak takut dan tidak memberikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.

Pengetahuan yang kurang dan kesalahan persepsi dari masyarakat tentang resiko-resiko bagi kehidupan ODHA, berakibat ODHA termarjinal dari kehidupan bermasyarakat dan semakin terbatasnya layanan yang dibutuhkan bagi ODHA. Dampaknya kondisi tersebut memberikan kontribusi meluasnya epidemik HIV dan kematian jumlah penderita AIDS secara global.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 merupakan survei yang menghasilkan estimasi terbaru dari indikator utama kependudukan dan kesehatan. Salah satu data yang dihasilkan di dalam data SDKI 2012 yaitu data tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia tentang HIV/AIDS. Data tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS yang dikumpulkan di dalam SDKI 2012 merupakan data yang komprenhensif mengenai tingkat pengetahuan meliputi pengetahuan transmisi HIV/AIDS, pengetahuan pencegahan HIV/AIDS, dan miss persepsi terkait HIV/AIDS. 

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia tentang HIV/AIDS masih rendah terlihat dari data yang menunjukan bahwa persentase wanita  umur 15-49 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 76,7%. Sedangkan presentasi pria umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 82,3%. Selain data estimasi tingkat pengetahuan HIV/AIDS, di dalam kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai HIV/AIDS, terdapat sejumlah pertanyaan yang menunjukkan bagaimana sikap responden terhadap ODHA.

Tulisan ini dipost melalui Aplikasi Seto di tanya jawab seputar Kesehatan, Kedokteran, dan Pengobatan dan Perawatan Kesehatan.

Advertisements