Makalah lengkap: klik disini

Menjalankan bisnis tentu saja ada pasang dan surutnya, tidak terkecuali pada perusahaan ponsel sekelas BlackBerry dan Nokia.

Pada tahun 2007 lalu, BlackBerry yang semula bernama Research in Motion (RIM) memperkenalkan layanan surat elektronik (e-mail) di ponsel ke seluruh dunia. Layanan tersebut diklaim mampu menekan pemakaian paket data internet (bandwidth) secara lebih efisien.
Penjualan ponsel ini laris manis bak kacang goreng, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan peluncuran salah satu seri produknya juga dilakukan di Jakarta. Padahal, produk tersebut juga dipasarkan ke seluruh dunia.
Otomatis, Indonesia juga terangkat namanya akibat penjualan salah satu produk BlackBerry tersebut.
Begitu juga dengan Nokia. Produsen ponsel asal Finlandia ini sukses memasarkan ponsel dengan harga relatif terjangkau dan memiliki produksi baterai yang sangat kecil, tetapi dengan daya tahan lebih lama.

Pada tahun 2007 tersebut, Nokia juga menggelontorkan investasi sebesar 10.000 dollar AS. Dan, pada akhir tahunnya, investasi tersebut langsung membuahkan hasil menjadi 22.700 dollar AS. Lantas, kedua produsen ponsel ini selalu muncul dalam daftar perusahaan paling inovatif.

Awal kehancuran BlackBerry dan Nokia
Pada November 2007 dulu, majalah Fortune sempat menampilkan berita utama di halaman sampulnya berjudul “Siapa Pun Bisa Menghentikan Nokia?”. Dan, jawabannya ternyata bisa dan ada juga perusahaan yang mampu menyaingi dua perusahaan tersebut.
Awalnya, kapitalisasi pasar Nokia pernah lebih dari 110 miliar euro atau sekitar 149,4 miliar dollar AS. Namun, pada September 2013 ini, Nokia menjual bisnis perangkat mobile untuk Microsoft hanya senilai 7 miliar dollar AS.

Meski tidak setinggi Nokia, kapitalisasi pasar BlackBerry pernah mencapai 83 miliar dollar AS. Namun, bulan lalu, perusahaan ini dikabarkan menjual aset perusahaannya ke sebuah perusahaan investasi dengan nilai hanya 5 miliar dollar AS.
Kalah bersaing, kedua perusahaan produsen ponsel ini memang tidak pernah lepas dari gangguan dari produsen ponsel yang lainnya. Sebutlah seperti Apple yang menelurkan ponsel iPhone dan Samsung yang terus menggempur pasar melalui ponsel seri Galaxy.
Dari studi yang dilakukan Apple, ternyata konsumen menginginkan ponsel tidak hanya digunakan untuk sarana bertelepon. Namun, ponsel tersebut harus dirancang dengan baik dan diintegrasikan dengan perangkat mobile internet.

Di sisi lain, organisasi perusahaan juga harus lebih mumpuni menemukan strategi bisnis perusahaan ke depan. Intinya, bagaimana harus sesuai dengan keinginan konsumen, tetapi tetap menguntungkan bagi perusahaan.
Dalam kacamata ini, baik BlackBerry maupun Nokia ternyata tidak melakukan strategi tersebut. Nokia kalah strategi karena lebih memilih menggunakan sistem operasi Windows Phone. Padahal, masyarakat belum menghendaki sistem operasi tersebut dan sistem ini tidak diterima dengan laris manis di pasar.
Sedangkan BlackBerry dinilai tidak memiliki ragam produk yang memiliki keunggulan layanan, selain hanya BlackBerry Messenger (BBM) semata. Bahkan sistem operasi BlackBerry 10 juga tidak mampu menolong penjualan bisnis ponsel BlackBerry di seluruh dunia.
Dari peristiwa tersebut, kita belajar bahwa pemimpin perusahaan harus membayar harga yang berat akibat kegagalan memimpin perusahaan. Apalagi ketidakmampuannya bersaing dengan perusahaan lain.
Pada masa depan, bukan tidak mungkin giliran Apple dan Samsung yang diterpa masalah seperti BlackBerry dan Nokia. Apalagi vendor seperti Sony, Huawei, Lenovo, Asus, dan vendor lain juga terus merangsek ke pasar dunia.
Menariknya lagi, BlackBerry merupakan produsen dari Kanada dan Nokia berasal dari Finlandia. Dua negara ini merupakan bagian dari negara dengan kawasan perekonomian yang sedang terpuruk, yaitu Amerika Serikat dan Eropa. Sementara vendor lain, seperti Samsung (Korea Selatan), Sony (Jepang), Huawei dan Lenovo (China), mayoritas dari Asia

Advertisements